Model Life Cycle Software
1.Model Waterfall
1.1 Sejarah model waterfall
Nama
model ini sebenarnya adalah “Linear Sequential Model”. Model ini sering disebut
dengan “classic life cycle” atau
model waterfall. Model ini pertama kali yang diperkenalkan oleh Winston Royce
sekitar tahun 1970 sehingga sering dianggap kuno, tetapi merupakan model yang
paling banyak dipakai didalam Software
Engineering (SE). Model ini melakukan pendekatan secara sistematis dan
berurutan. Disebut dengan waterfall
karena tahap demi tahap yang dilalui harus menunggu selesainya tahap sebelumnya
dan berjalan berurutan.
1.2 Pengertian Waterfall
Waterfall atau AIR terjun adalah model yang dikembangkan
untuk pengembangan perangkat lunak, membuat perangkat lunak. model
berkembang secara sistematis dari satu tahap ke tahap lain dalam mode seperti
air terjun.
Model ini mengusulkan sebuah pendekatan kepada
pengembangan software yang sistematikdan sekuensial yang mulai dari tingkat
kemajuan sistem pada seluruh analisis, desain, kode, pengujian dan
pemeliharaan. Model ini melingkupi aktivitas-aktivitas sebgai berikut :
rekayasa dan pemodelan sistem informasi, analisis kebutuhan, desain, koding,
mengujian dan pemeliharaan.
Model pengembangan ini bersifat linear dari tahap awal
pengembangan system yaitu tahap perencanaan sampai tahap akhir pengembangan
system yaitu tahap pemeliharaan. Tahapan berikutnya tidak akan dilaksanakan
sebelum tahapan sebelumnya selesai dilaksanakan dan tidak bisa kembali atau
mengulang ke tahap sebelumnya.
1.
Tahapan atau fase model
waterfal
Ini adalah gambar tahapan atau
fase yang paling umum tentang model waterfall
Akan
tetapi Roger S. Pressman memecah model ini menjadi 6 tahapan meskipun secara
garis besar sama dengan tahapan-tahapan model waterfall pada umumnya. Berikut
adalah Gambar dan penjelasan dari tahap-tahap yang dilakukan di dalam model ini
menurut Pressman:

- System / Information Engineering
and Modeling. Permodelan ini diawali dengan
mencari kebutuhan dari keseluruhan sistem yang akan diaplikasikan ke dalam
bentuk software. Hal ini sangat penting, mengingat software harus dapat
berinteraksi dengan elemen-elemen yang lain seperti hardware, database, dsb.
Tahap ini sering disebut dengan Project Definition.
- Software Requirements Analysis. Proses pencarian kebutuhan diintensifkan dan difokuskan pada software.
Untuk mengetahui sifat dari program yang akan dibuat, maka para software
engineer harus mengerti tentang domain informasi dari software, misalnya fungsi
yang dibutuhkan, user interface, dsb. Dari 2 aktivitas tersebut (pencarian
kebutuhan sistem dan software) harus didokumentasikan dan ditunjukkan kepada
pelanggan.
- Design. Proses ini digunakan untuk mengubah kebutuhan-kebutuhan diatas menjadi
representasi ke dalam bentuk “blueprint” software sebelum coding dimulai.
Desain harus dapat mengimplementasikan kebutuhan yang telah disebutkan pada
tahap sebelumnya. Seperti 2 aktivitas sebelumnya, maka proses ini juga harus
didokumentasikan sebagai konfigurasi dari software.
- Coding. Untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal ini adalah komputer, maka
desain tadi harus diubah bentuknya menjadi bentuk yang dapat dimengerti oleh
mesin, yaitu ke dalam bahasa pemrograman melalui proses coding. Tahap ini
merupakan implementasi dari tahap design yang secara teknis nantinya dikerjakan
oleh programmer.
- Testing / Verification. Sesuatu yang dibuat haruslah diujicobakan. Demikian juga dengan software.
Semua fungsi-fungsi software harus diujicobakan, agar software bebas dari
error, dan hasilnya harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang sudah
didefinisikan sebelumnya.
- Maintenance. Pemeliharaan suatu software diperlukan, termasuk di dalamnya adalah
pengembangan, karena software yang dibuat tidak selamanya hanya seperti itu.
Ketika dijalankan mungkin saja masih ada errors kecil yang tidak ditemukan
sebelumnya, atau ada penambahan fitur-fitur yang belum ada pada software
tersebut. Pengembangan diperlukan ketika adanya perubahan dari eksternal
perusahaan seperti ketika ada pergantian sistem operasi, atau perangkat
lainnya.
b. Karakteristik
Dalam model ini terdapat
beberapa sifat-sifat yang menojol dan cenderung menjadi permasalahan pada model
waterfall.
· Ketika problem muncul, maka proses berhenti karena tidak dapat menuju ke
tahapan selanjutnya. Apabila terdapat kemungkinan problem tersebut muncul akibat kesalahan dari tahapan sebelumnya,
maka proses harus membenahi tahapan sebelumnya agar problem ini tidak muncul.
· Karena pendekatannya secara sequential, maka setiap tahap harus
menunggu hasil dari tahap sebelumnya. Hal itu tentu membuang waktu yang cukup
lama, artinya bagian lain tidak dapat mengerjakan hal lain selain hanya
menunggu hasil dari tahap sebelumnya.
c. Mengapa model ini sangat populer?
Selain karena pengaplikasian menggunakan model ini mudah,
kelebihan dari model ini adalah ketika semua kebutuhan sistem dapat
didefinisikan secara utuh, eksplisit, dan benar di awal project, maka SE dapat
berjalan dengan baik dan tanpa masalah. Meskipun seringkali kebutuhan sistem
tidak dapat didefinisikan seeksplisit yang diinginkan, tetapi paling tidak,
problem pada kebutuhan sistem di awal project lebih ekonomis dalam hal uang
(lebih murah), usaha, dan waktu yang terbuang lebih sedikit jika dibandingkan
problem yang muncul pada tahap-tahap selanjutnya.
Meskipun
demikian, karena model ini melakukan pendekatan secara urut / sequential, maka
ketika suatu tahap terhambat, tahap selanjutnya tidak dapat dikerjakan dengan
baik dan itu menjadi salah satu kekurangan dari model ini. Selain itu, ada
beberapa kekurangan pengaplikasian model ini, antara lain adalah sebagai
berikut:
·
Ketika problem muncul, maka
proses berhenti, karena tidak dapat menuju ke tahapan selanjutnya. Bahkan jika
kemungkinan problem tersebut muncul akibat kesalahan dari tahapan sebelumnya,
maka proses harus membenahi tahapan sebelumnya agar problem ini tidak muncul.
Hal-hal seperti ini yang dapat membuang waktu pengerjaan SE.
· Karena pendekatannya secara
sequential, maka setiap tahap harus menunggu hasil dari tahap sebelumnya. Hal
itu tentu membuang waktu yang cukup lama, artinya bagian lain tidak dapat
mengerjakan hal lain selain hanya menunggu hasil dari tahap sebelumnya. Oleh
karena itu, seringkali model ini berlangsung lama pengerjaannya.
· Pada setiap tahap proses tentunya
dipekerjakan sesuai spesialisasinya masing-masing. Oleh karena itu, ketika
tahap tersebut sudah tidak dikerjakan, maka sumber dayanya juga tidak terpakai
lagi. Oleh karena itu, seringkali pada model proses ini dibutuhkan seseorang
yang “multi-skilled”, sehingga minimal dapat membantu pengerjaan untuk tahapan
berikutnya.
d. Kapan model waterfall di
gunakan?????
Salah
satu model tradisional dan mudah yang tahapannya mengalir satu arah seperti air
terjun adalah Waterfall Model atau Linear Sequential Model. Pertanyaannya, kapan sebaiknya model
tersebut digunakan?
Teori-teori lama menyimpulkan ada beberapa hal, yaitu:
- Ketika semua persyaratan sudah dipahami dengan baik di awal
pengembangan.
- Definisi produk stabil dan tidak ada perubahan saat pengembangan untuk
alasan apapun seperti perubahan eksternal, perubahan tujuan, perubahan
anggaran atau perubahan teknologi. Untuk itu, teknologi yang digunakan pun
harus sudah dipahami dengan baik.
- Menghasilkan produk baru, atau versi baru dari produk yang sudah ada.
Sebenarnya, jika menghasilkan versi baru maka sudah masuk incremental
development, yang setiap tahapnya sama dengan Waterfall kemudian diulang-ulang.
- Porting produk yang sudah ada ke dalam platform baru.
Dengan
demikian, Waterfall dianggap pendekatan yang lebih cocok digunakan untuk
proyek pembuatan sistem baru. Tetapi
salah satu kelemahan paling dasar adalah menyamakan pengembangan perangkat
keras dengan perangkat lunak dengan meniadakan perubahan saat pengembangan.
Padahal, galat diketahui saat perangkat lunak dijalankan, dan
perubahan-perubahan akan sering terjadi.
1.3 Tahapan Pengembangan Dalam Waterfall
Tahap – tahap pengembangan
waterfall model adalah
1. Analisis dan definisi persyarat
Pelayanan, batasan, dan tujuan sistem
ditentukan melalui konsultasi dengan user.
2. Perancangan
sistem dan perangkat lunak
Kegiatan ini menentukan arsitektur sistem secara keseluruhan
3. Implementasi
dan pengujian unit
Perancangan perangkat lunak direalisasikan sebagai serangkaian program
4.
Integrasi dan pengujian sistem
Unit program diintegrasikan atau diuji sebagai sistem yang lengkap untuk
menjamin bahwa persyaratan sitem telah terpenuhi
5. Operasi dan pemeliharaan
Merupakan fase siklus yang paling lama. Sistem diinstall dan dipakai. Perbaikan
mencakup
koreksi dari berbagai error, perbaikan dan implementasi unit sistem
dan pelayanan sistem.
1.4 Keuntungan dari Model Waterfall
· Merupakan model pengembangan
paling handal dan paling lama digunakan.
· Cocok untuk system software
berskala besar.
· Cocok untuk system software yang
bersifat generic.
· Pengerjaan project system akan
terjadwal dengan baik dan mudah dikontrol.
1.5 Kelemahan Waterfall
·
Waktu pengembangan lama. hal ini dikarenakan
input tahap berikutnya adalah output dari tahap sebelumnya. Jika satu tahap
waktunya molor, maka waktu keseluruhan pengembangan juga ikut molor.
·
Biaya juga mahal, hal ini juga
dikarenakan waktu pengembangan yang lama
·
Terkadang perangkat lunak yang
dihasilkan tidak akan digunakan karena sudah tidak sesuai dengan requirement
bisnis customer. hal ini juga dikarenakan waktu pengembangan yang lama. selain
itu dikarenakan waterfall merupakan aliran yang linear, sehingga jika
requirement berubah proses tidak dapat diulang lagi.
·
Karena tahap-tahapan pada
waterfall tidak dapat berulang, maka model ini tidak cocok untuk pemodelan
pengembangan sebuah proyek yang memiliki kompleksitas tinggi.
·
Meskipun waterfall memiliki
banyak kelemahan yang dinilai cukup fatal, namun model ini merupakan dasar bagi
model-model lain yang dikembangkan setelahnya.
2. Rapid Application Development (RAD)
2.1 Sejarah RAD
Siklus hidup Tradisional dirancang di tahun 1970an, dan masih banyak digunakan
hingga saat ini, berdasarkan pendekatan terstruktur yang bertahap untuk
mengembangkan sistem. Urutan atau langkah langkah yang rumit ini memaksa user
untuk keluar setelah menyelesaikan spesifikasi masing masing sebelum
pengembangan dapat melanjutkan ke langkah berikutnya. Persyaratan dan
perencanaan kemudian berhenti dan sistem di implementasikan,dan diuji,. Dengan
konvensional metode, ada penundaan yang lama sebelum pelanggan dapat melihat
hasil apapun dan proses pembangunan dapat mengambil waktu begitu lama sehingga
pelanggan bisnis dapat mengubah secara mendasar sebelum sistem ini siap untuk
digunakan.
Sebagai tanggapan terhadap, langkah searah Stagewise atau Model Water Fall,
Barry Boehm, Ketua SW Engineer di TRW, memperkenalkan Model development Spiral
nya. Model Spiral adalah risikodriven, sebagai lawan dari kodedriven,
pendekatan yang menggunakan pemodelan proses daripada fase metodologi. Melalui
model nya, Boehm pertama kali diimplementasikan perangkat lunak prototyping
sebagai cara untuk mengurangi risiko. Pengembangan proses Spiral Model memisahkan
produk ke bagian bagian yang kritis atau tingkat sementara melakukan analisis
risiko, prototyping, dan langkah yang sama di setiap tingkatan. Demikian pula,
Tom Gilb's evolusioner Life Cycle didasarkan pada evolusi prototyping alasan
mana prototipe tumbuh dan halus ke final produk.
Karya Boehm
dan Gilb membuka jalan bagi perumusan metodologi yang disebut Rapid Prototyping
Iteratif Produksi (RIPP) di DuPont di pertengahan ke akhir 1980an. James Martin
kemudian diperluas kerja yang dilakukan di DuPont dan tempat lain ke dalam
suatu proses, lebih besar lebih formal, yang telah menjadi dikenal sebagai
Rapid Application Development (RAD). RAD kompres pengembangan langkah demi
langkah metode konvensional menjadi proses berulangulang. Pendekatan RAD demikian
termasuk mengembangkan dan memperbaiki model data, model proses, dan prototipe
secara parallel menggunakan proses iteratif. Persyaratan Pengguna diperhalus,
solusi dirancang, solusinya adalah prototyped, prototipe ditinjau, masukan
pengguna disediakan, dan proses dimulai la.
2.2 Pengertian RAD
Rapid
application development (RAD) atau rapid prototyping adalah model proses
pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental
(bertingkat). RAD menekankan pada siklus pembangunan pendek, singkat, dan
cepat. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini. Rapid
application development menggunakan metode iteratif (berulang) dalam
mengembangkan sistem dimana working model (model kerja) sistem dikonstruksikan
di awal tahap pengembangan dengan tujuan menetapkan kebutuhan (requirement)
pengguna. Model kerja digunakan hanya sesekali saja sebagai basis desain dan
implementasi sistem akhiRapid Application Development (RAD) adalah metodologi pengembangan perangkat
lunak yang berfokus pada membangun aplikasi dalam waktu yang sangat singkat.
Istilah ini menjadi kata kunci pemasaran yang umum menjelaskan aplikasi yang
dapat dirancang dan dikembangkan dalam waktu 609 hari, tapi itu awalnya
ditujukan untuk menggambarkan suatu proses pembangunan yang melibatkan
application prototyping dan iterative development.
Menurut James Martin “Rapid Application Development (RAD) merupakan
pengembangan siklus yang dirancang untuk memberikan pengembangan yang jauh
lebih cepat dan hasil yang lebih berkualitas tinggi daripada yang dicapai
dengan siklus hidup tradisional. Hal ini dirancang untuk mengambil
keuntungan maksimum dari pengembangan perangkat lunak yang telah berevolusi barubaru
ini."
Profesor Clifford
Kettemborough dari College Whitehead, University of Redlands, mendefinisikan
Rapid Application Development sebagai "pendekatan untuk membangun sistem
komputer yang menggabungkan ComputerAssisted Software Engineering (CASE) tools
dan teknik, userdriven prototyping,. RAD meningkatkan kualitas sistem secara
drastis dan mengurangi waktu yang diperlukan untuk membangun sistem."
Sebagai
gambaran umum, pengembangan aplikasi berarti mengembangkan aplikasi pemrograman
yang bervariasi dari pemrograman umum dalam arti bahwa ia memiliki tingkat yang
lebih tinggi dari liabillity, termasuk untuk kebutuhan capturing dan testing.
Pada 1970an, Rapid Application Development muncul sebagai respon untuk nonagile
processes, seperti model Waterfall. Pengembang perangkat lunak menghadapi
masalah waktu dengan metodologi sebelumnya sebagai sebuah aplikasi yang begitu
lama untuk membangun. Dengan demikian, metodologi tersebut sering mengakibatkan
sistem tidak dapat digunakan.
2.3 Model RAD
a) Bussiness model
Aliran informasi di antara fungsi – fungsi bisnis dimodelkan dengan suatu cara untuk menjawab pertanyaan –
pertanyaan berikut :
a. informasi apa yang mengendalikan proses
bisnis?
b. Informasi apa yang di munculkan?
c. Siapa
yang memunculkanya?
d. Ke mana informasi itu pergi?
e. Siapa
yang memprosesnya?
b) Data modeling
a. Aliran
informasi yang di definisikan sebagai bagian dari fase business modeling disaring kedalam
serangkaian objek data yang dibutuhkan untuk menopang bisnis tersebut
b. Karakteristik
(disebut atribut) masing – masing objek diidentifikasi dan hubungan antara
objek – objek tersebut didefinisikan.
c. Bagian
dari pemodelan bisnis yang didefinisikan ke dalam sekumpulan objek data.
d. Karakteristik
(atribut) dari setiap objek diidentifikasikan dan hubungannya.
c) Prosess modelling
a.Aliran informasi yang didefinisikan di dalam
fase data modeling ditransformasikan untuk mencapai aliran informasi yang perlu
bagi implementasi sebuah fungsi bisnis.
- Gambaran pemrosesan
diciptakan untuk menambah, memodifikasi,menghapus,atau mendapatkan kembali sebuah
objek data.
b. Objek
data akan diimplementasikan pada fungsi bisnis.
c. Deskripsi
proses dibangun untuk penambahan modifikasi, penghapusan,pengambilan kembali
objek data.
d)
Application generation
RAD mengasumsikan pemakaian teknik generasi ke empat.
Selain menciptakan perangkat lunak dengan
a. Menggunakan
bahasa pemrograman generasi ketiga yang konvensional
·Pada semua
kasus, alat – alat bantu otomatis dipakai untuk memfasilitasi konstruksi
perangkat lunak.
b. Melakukan penggunaan kembali komponen yang ada
(jika mungkin).
c. Atau membuat kembali penggunaan kembali
komponen jika dibutuhkan.
e) Testing and turnover
a. Karena
proses RAD menekankan pada pemakaian kembali,banyak komponen program telah diuji.
Hal ini mengurangi keseluruhan waktu pengujian.
- Tetapi komponen baru harus di uji dan semua interface
harus dilatih secara penuh.
2.4 Keuntungan dan Kelemahan RAD
2.4.1
Keuntungan RAD
RAD mempunyai keuntungan yang
dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Sangat berguna dilakukan pada kondisi user tidak
memahami kebutuhankebutuhan apa saja yang digunakan pada proses pengembangan
perangkat lunak.
- RAD mengikuti tahapan pengembangan sistem sepeti
umumnya, tetapi mempunyai kemampuan untuk menggunakan kembali komponen yang ada
(reusable object) sehingga pengembang tidak perlu membuat dari awal lagi dan
waktu lebih singkat berkisar antara 60 hari-90 hari.
-
Karena mempunyai kemampuan untuk menggunakan komponen
yang sudah ada dan waktu yang lebih singkat maka membuat biaya menjadi lebih
rendah dalam menggunakan RAD
2.4.2 Kelemahan RAD
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam implementasi pengembangan
menggunakan model RAD :
- Proyek yang berskala besar, RAD memerlukan sumber daya
manusia yang memadai untuk menciptakan jumlah tim yang baik.
- RAD menuntut pengembang dan pelanggan memiliki komitmen
dalam aktivitasi rapid fire yang diperlukan untuk melengkapi sebuah sistem
dalam waktu yang singkat. Jika komitmen tersebut tidak ada maka proyek RAD akan
gagal.
3. V Model
3.1
Sejarah
Pada tahun 1986 Kementerian
Federal untuk pertahanan memulai dua proyek.
Software lingkungan
pengembangan untuk sistem informasi (Seu-IS) dan Software lingkungan
pengembangan untuk sistem pengiriman senjata dan senjata (Seu-WS) dengan tujuan
sebagai berikut:
Untuk membuat biaya atas
pengembangan perangkat lunak keseluruhan dan transparansi proses dan perawatan
juga membatasi akibatnya. Untuk menjamin dan / atau ini lebih meningkatkan
dengan tindakan yang sesuai standar minimum untuk kualitas perangkat lunak.
Untuk mencapai oleh komparatif dari tawaran ketiga kemandirian yang lebih besar
dari offerers individu untuk. Untuk standarisasi dan mengatur lebih transparan
dalam pengembangan perangkat lunak di rumah sendiri. Asal Militer
Untuk hal ini pada prinsipnya
juga pengolahan konsep dari NATO-sekutu seharusnya dapat diterapkan, seperti
misalnya Amerika standar DoD 2.167 STD A atau standar Perancis GAM T 17. Sebuah
pemeriksaan rinci dari model ini menunjukkan bahwa bagaimanapun mereka tidak
mampu, semua persyaratan untuk menjadi adil. Jadi salah satu memutuskan untuk
pengembangan diri, yang membawa versi pertama keluar dari model V-pada tahun
1988 - sebagai hasil dari proyek Seu-WS -. Ke ini sampai April 1990 realisasi
dari proyek Seu-IS kemudian diintegrasikan dan versi perbaikan dari model
V-dekrit itu tetap dari bulan Februari 1991 oleh Menteri Federal untuk
pertahanan sebagai tingkat pool pengembangan perusahaan penyiaran untuk
produksi software dengan Angkatan Bersenjata Jerman Federal.
3.2 Pengertian V-Model
Dalam V-Model , alokasi tugas ( kegiatan ) kepada
orang-orang yang terorganisir melalui peran. Dalam kaitan ini, peran
menggambarkan dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan seseorang harus memiliki
dalam rangka untuk memenuhi tugas-tugas yang dialokasikan kepadanya. Dengan
demikian, berkaitan dengan organisasi, V-Model tidak memihak. Berkenaan dengan
proyek penanganan ini berarti bahwa peranan dari model V- harus dialokasikan
untuk perorangan pada saat proyek (kegiatan PM1 - Inisialisasi Proyek )
diinisialisasi. Di pihak berwenang dan perusahaan, orang-orang selalu unit
organisasi terkecil.
Oleh karena itu, alokasi orang untuk peran juga untuk mempertimbangkan struktur
organisasi dan penanganan organisasi. Peran mengidentifikasi kegiatan-kegiatan
yang mungkin memerlukan hanya sebagian dari jam kerja anggota staf, atau, dalam
kasus lain, mereka mungkin memerlukan beberapa kali jam kerja dari anggota
staf.
Oleh karena itu, anggota staf mungkin memiliki beberapa peran yang dialokasikan
kepadanya, atau satu peran dapat dipenuhi oleh beberapa anggota staf. Bagian
penting dalam alokasi ini adalah bahwa peran sendiri tidak akan mengganggu satu
sama lain dan dengan demikian mungkin menjadi masalah yang tak terpecahkan bagi
orang yang bertanggung jawab atas peran (misalnya berkaitan dengan peran
konstruktif SD di satu sisi dan dengan penguji pada lainnya tangan). Misalnya,
peran Pimpinan Proyek tidak boleh dikombinasikan dengan peran orang yang
bertanggung jawab QA, karenaPemimpin Proyek terutama bertanggung jawab untuk
waktu dan anggaran, dan manajer QA untuk kualitas. Sebagai contoh lain, peran
manajer QA kompatibel dengan peran Perwakilan CM .
Kriteria untuk alokasi adalah bahwa seseorang tidak harus berada dalam konflik
kepentingan, struktur tanggung jawab dan pengalaman, pengetahuan, kesesuaian,
ketersediaan (utilisasi) dari anggota proyek.
Dalam hal tidak ada kegiatan lebih banyak dialokasikan setelah menjahit,
beberapa peran yang dapat dijatuhkan dari proyek tersebut. Dalam proyek-proyek
kecil, tidak dapat dihindari bahwa beberapa peran yang dialokasikan untuk satu
orang. Dalam proyek-proyek besar, peran masing-masing biasanya ditutupi oleh
anggota staf yang berbeda.
Beberapa peran yang relevan untuk proyek tersebut dapat dipindahkan ke unit
organisasi untuk seluruh panjang dari proyek. Ini praktis terutama dalam kasus
seperti di mana aktivitas peran agak rumit dan peningkatan konstan dalam
pengetahuan dapat diharapkan sambil terus berhubungan dengan materi pelajaran.
Di atas semua itu, peran ini dapat berupa tugas cross-sectional alam dan
menjadi prasyarat dan dasar untuk semua proyek.Mereka adalah independen dari
proyek individu sejak layanan mereka diwajibkan oleh semua proyek. Contoh umum
adalah Manajer Proyek , Manajer Q , manajer CM , dan IT Perwakilan . Contoh
untuk alokasi peran untuk orang / unit organisasi dalam satu struktur
organisasi dapat ditemukan dalam koleksi manual.
The V-Model mengasumsikan bahwa pengembangan sistem atau sistem pemeliharaan
dan modifikasi adalah fokus komisi. Biasanya, pelanggan merupakan unit
organisasi yang komisi pengembangan sistem lain unit organisasi baik di luar
atau di dalam perusahaan otoritas /. Ketika mempertimbangkan pelanggan dan kontraktor,
ini tidak berarti bahwa peran dalam Model V- akan digandakan (peran pelanggan
dan ontractor rolesc).Komunikasi tambahan dan tugas koordinasi harus ditentukan
yang dapat menyebabkan pengaturan dari keputusan lebih lanjut dan kelompok
kemudi. R.2 Peran di V-Model Peran yang diperintahkan sesuai dengan submodels:
dalam setiap submodel, ada • salah satu manajer yang mendefinisikan kondisi
marjinal untuk kegiatan submodel dan yang berfungsi sebagai pengambil keputusan
atas, • perencanaan perwakilan, kemudi dan mengendalikan tugas-tugas dari
submodel tersebut, satu atau beberapa orang yang bertanggung jawab atas
tugas-tugas yang direncanakan dari submodel tersebut. Tabel R. 1 menggambarkan
peranan dari model V- .

3.3 Keuntungan dari V-Model
- Bahasa yang digunakan untuk merepresentasikan konsep V model menggunakan
bahasa formal. Contoh : dengan menggunakan objek model ataupun frame-frame •
Meminimalisasikan kesalahan pada hasil akhir karena ada test pada setiap
prosesnya.
- Penyesuaian yang cepat pada projek yang baru
- Memudahkan dalam pembuatan dokumen projek
- Biaya yang murah dalam perawatan dan modifikasinya
- • V Model sangat fleksibel. V Model mendukung project tailoring dan penambahan
dan pengurangan method dan tool secara dinamik. Akibatnya sangat mudah untuk
melakukan tailoring pada V Model agar sesuai dengan suatu proyek tertentu dan
sangat mudah untuk menambahkan method dan tool baru atau menghilangkan method
dan tool yang dianggap sudah obsolete.
- • V Model dikembangkan dan di-maintain oleh publik. User dari V Model
berpartisipasi dalam change control board yang memproses semua change request
terhadap V Model.
3.4 Kerugian dari V-Model
- Aktifitas V-Model hanya difokuskan pada projectnya saja, bukan pada keseluruhan
organisasi. V-Model adalah proses model yang hanya dikerjakan sekali selama
project saja, bukan keseluruhan organisasi.
- Prosesnya hanya secara sementara. Ketika project selesai, jalannya proses model
dihentikan. Tidak berlangsung untuk keseluruhan organisasi.
- Metode yang ditawarkan terbatas. Sehingga kita tidak memiliki cara pandang dari
metode yang lain. Kita tidak memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan jika
ada tools lain yang lebih baik.
- Toolnya tidak selengkap yang
dibicarakan. SDE (Software Development Environment).Tidak ada tools untuk
hardware di V-Model. Tool yang dimaksud adalah “software yang mendukung
pengembangan atau pemeliharaan / modifikasi dari system IT. n V
Model adalah model yang project oriented sehingga hanya bisa digunakan sekali
dalam suatu proyek.
- V Model terlalu fleksibel dalam arti ada beberapa activity dalam V Model yang
digambarkan terlalu abstrak sehingga tidak bisa diketahui dengan jelas apa yang
termasuk dalam activity tersebut dan apa yang tidak.
3.5 Penerapan V Model
V model biasa digunakan pada proyek-proyek dengan skala yang besar. Sebagai
contohnya yaitu digunakan di Jerman untuk mengatur sistem administrasi
pemerintahannya dalam hal ini pada bagian BWB (Bundesamt für Wehrtechnik und
Beschaffung = German Federal Office for Procurement).
4.Simple Interaction Design Model
Simple
Interaction Design Model sebagai suatu proses untuk mencapai suatu
tujuan dengan pencarian berbagai solusi melalui ruang lingkup sistem,
materi, biaya dan kemungkinan penyelesaiannya (feasibilitas), sebagai
wujud kreativitas dan pengambilan keputusan untuk menyeimbangkan
trade-off. Dan Sebagai representasi suatu perencanaan pengembangan yang
berisikan sekumpulan elaborasi alternatif dan suksesif.
Dalam desain interaksi terdapat empat kegiatan utama, yaitu :
– Identifikasi kebutuhan dan persyaratan sistem
– Pengembangan desain alternatif (desain konseptual dan fisikal)
– Membuat versi interaktif dari desain yang dihasilkan
– Mengevaluasi desain (usabilitas dan user experience)
5.Star Lifecycle
Dalam Siklus permodelan ini pengujian dilakukan terus menerus. Misalnya
dimulai dari menentukan kosep desain (conceptual design ) dalam proses
ini akan langsung terjadi evaluasi untuk langsung ternilai apakah sudah
sesuai dengan kebutuhan user, bila belum maka akan terus berulang di
evaluasi hingga benar-benar pas, selanjutnya apabila sudah pas, maka
dari tahap evaluasi yang pertama akan lanjut ke proses yg selanjutnya
yakni requirements/specification yakni memverifikasikan persyaratan
rancangan tersebut, dan pada tahap itu juga langsung terjadi
pengevaluasian seperti tahap pertama, dan selanjutnya akan tetap sama
terjadi pada tahapan-tahapan selanjutnya yakni task analysis/fungsion
analysis, pengimplementasian, prototyping hingga pada akhirnya
terciptalah sebuah aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan user.
Sumber : wijayaerwin07.blogspot.com